avatardisplay_general
DISITU
28 Dec 2017

Gadai Syariah menguntungkan, Yuk telusuri Lebih Jauh!

106.Gadai Syariah Yuk Kenali Lebih Jauh.jpg

Seperti yang kita ketahui mayoritas masyarakat indonesia adalah muslim, dari situlah banyak dari mereka yang menerapkan kehidupan sehari-hari nya berpaku pada ajaran islam, termasuk dalam hal menggadai barang untuk keperluan finansial.

Pada era ini  gadai syariah menjadi salah satu primadona di Indonesia karena menerapkan hukum-hukum islam didalamnya.. secara garis besar gadai syariah merupakan jaminan utang atau gadai. Untuk lebih jelasnya pegadaian syariah merupakan sistem menjamin utang dengan barang yang dimiliki yang memungkinkan untuk dapat dibayar dengan uang atau hasil penjualannya. Pegadaian syariah bisa pula diartikan dengan menahan suatu barang milik penjamin sebagai jaminan atas sejumlah pinjaman yang diberikan. Tentunya barang penjamin harus mempunyai nilai ekonomis dan pihak penjamin mendapat jaminan bisa mengambil seluruh ataupun sebagian piutangnya kembali.

Bagaimana Hukum Gadai dalam Pandangan Islam?

Namun ada sudut pandang  terkait gadai dalam Hukum Islam, menurut pandangan hukum islam yang digunakan sebagai penjamin hutang adalah orang yang bersangkutan bisa berhutang karena barang yang dijaminkan, serta dalam pembayaranpun orang yang berhutang mempunyai dua pilihan yaitu membayar cicilan dana hutang atau meninggalkan barang jaminan sebagai nilai pengganti. Namun harga barang jaminan biasanya lebih tinggi dari pada jumlah hutang. Nah dalam islam , hukum gadai adalah perbuatan yang halal dan dibolehkan oleh agama islam, adapun dalam konteks untuk menjamin hak kedua belah pihak, gadai dinilai perbuatan yang mulia.

 Apa Landasan Hukum yang Memuat tentang Gadai Syariah?

Dasar hukum yang menjadi landasan gadai syariah adalah Al-Qur’an, hadist Nabi Muhammad SAW, Ijma, dan fatwa MUI. Hal dimaksud diungkapkan sebagai berikut:

a.Al-Qur’an 

Surat Al- Baqarah ayat 283 digunakan sebagai dasar dalam membangun konsep

gadai dan berbunyi sebagai berikut :

“Jika kamu dalam perjalanan (dan kamu melakukan muamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dapat dijadikan sebagai pegangan (oleh yang mengutangkan), tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yuang dipercaya itu menunaikan amanat (utangnya) dan hendaknya ia bertakwa kepada Allah SWT, Tuhannya. Dan janganlah kamu menyembunyiak kesaksian,

karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh hatinya kotor (berdosa), Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat  tersebut  secara  eksplisi  menyebutkan  “barang  tanggungan  yang  dapat dijadikan sebagai pegangan (oleh orang yang mengutangkan)”. Dalam dunia finansial, barang tanggungan bisa dikenal dengan jaminan (collateral) atau objek pegadaian.

b. Hadist Nabi Muhammad SAW

Dasar hukum yang kedua untuk dijadikan rujukan dalam membuat rumusan gadai syariah adalah hadis Nabi Muhammad SAW, yang antara lain diungkapkan sebagai berikut:

1. Hadist Aisyah ra, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang berbunyi :

“Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau mengagunkan baju besinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

2.Hadist dari Anas bin Malik ra, yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang berbunyi :

“Sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi wasalam pernah mengagunkan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara Beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga Beliau.” (HR al-Bukhari).

 

3.Hadist dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, yang berbunyi :

“Nabi Muhammad SAW bersabda : kendaraan dapat digunakan dan hewan ternak dapat pula diambil manfaatnya apabila digadaikan. Penggadai wajib memberikan nafkah dan penerima gadai boleh mendapatkan manfaatnya.”

 

4.Hadist riwayat Abu Hurairah ra, yang berbunyi :

“Barang agunan tidak boleh disembunyikan dari pemilih yang mengagunkan, baginya risiko dan hasilnya.

 

 

cari-kredit-disitu-pilihanmu