avatardisplay_general
DISITU
01 Feb 2019

Hukum Asuransi dalam Islam, Haram atau Tidak?

https://disituapi.azureedge.net/ARTIKELIMAGE/201902/190201/Banner/hukum asuransi dalam islam haram atau tidak.jpg

Saat ini banyak orang yang mulai mengikuti perlindungan asuransi untuk hidupnya. Ini sebagai upaya meminimalisir kerugian jika terjadi suatu masalah seperti kecelakaan, kebakaran, pencurian dan masing banyak lagi. Namun tak dipungkiri masih ada pula yang tidak ingin terlibat dalam transaksi ini. Dikarenakan adanya sistem transaksi yang bertentangan dengan agama. Jika begini lalu apa solusinya? Mari kita bahas hukum asuransi dalam islam agar lebih jelas sesuai ilmunya.

Asuransi merupakan salah satu upaya untuk melindungi kepemilikan finansial jika suatu saat nanti terjadi permasalahan. Biasanya ditentukan berdasarkan asuransi jiwa, kesehatan, harta sampai perjalanan. Pembayarannya yaitu adanya iuran bulanan dengan nominal yang telah ditentukan sampai batas waktu tertentu. Nanti uang yang dibayarkan bisa digunakan sewaktu-waktu jika terjadi ke hal-hal buruk. Pandangan asuransi telah disampaikan oleh MUI sesuai dengan ketentuan dalam Islam.

hukum asuransi dalam islam menurut fatwa MUI No : 21/DSN-MUI/X/2001 mengenai asuransi syariah dapat disimpulkan bahwa asuransi boleh dilakukan asalkan dari setiap prosesnya mengandung unsur-unsur syariat islam. Berikut yang menjadi alasan bolehnya memiliki asuransi :

-Salah satu bentuk perlindungan

Asuransi

Jika dilihat manfaatnya memiliki asuransi tentu tidak terlepas dari bentuk perlindungan. Baik untuk diri sendiri, keluarga maupun harta benda. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dan agar siap menghadapinya, perlu bekal dan tabungan yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Dan asuransi inilah sebagai bentuk antisipasi resiko jika terjadi masalah ekonomi.

- Adanya saling menolong antar sesama

Asuransi

Di sini terjadi sikap saling menolong antara pihak asuransi dengan masyarakat. Sebagai bentuk investasi masa depan bagi mereka yang peduli akan hidupnya. Jadi ketika suatu waktu terjadi hal buruk seperti harus masuk rumah sakit, uang sudah tersedia karena memiliki asuransi. Juga hal lainnya yang akan sangat merugikan jika tidak memiliki simpanan untuk kedepannya. Jadi sikap tolong menolong inilah yang menjadikan asuransi boleh dilakukan. Asalkan di awal melakukan akad yang sesuai syariat islam,

 

Baca juga: Dapatkan Pinjaman Online Langsung Cair dengan Mudah

 

- Mengedepankan sistem musyawarah

Asuransi

hukum asuransi dalam islam juga mengedepankan sistem musyawarah. Penjelasan mengenai setiap proses asuransi harus diberitahukan dengan terperinci. Sehingga pihak yang mengadakan perjanjian sudah yakin dengan pengajuannya tersebut. Kemudian ketika akan mengajukan klaim, pihak asuransi bisa memberikan polis untuk memperlihatkan jumlah uang yang akan didapatkan. Proses ini diketahui sejak dimulainya akad agar ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

- Sebagai bentuk bermuamalah

Asuransi

Dalam islam bermuamalah sangat diperbolehkan karena mengatur transaksi jual beli dan perdagangan. Dan tentu dibarengi dengan transaksi sesuai syariat-syariat islam dalam setiap prosesnya. Termasuk juga dalam asuransi yang bisa dilakukan setiap orang. Hukum asuransi dalam islam dilakukan dengan memilih akad atau perjanjian yang disepakati. Dari mulai akad tijarah untuk investasi dan akad tabbaru' untuk saling tolong menolong.

Asuransi sudah termasuk ikhtiar untuk tetap mawas diri dengan apa yang terjadi di masa depan. Juga sebagai salah satu upaya agar tidak melakukan pemborosan dalam menggunakan harta. Itulah mengapa dilakukannya investasi demi kepentingan perlindungan dan upaya pencegahan kerugian finansial. Tetapi pilih asuransi sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan penting untuk dijaga. Juga perhatikan apakah setiap prosesnya dikelola dengan menggunakan prinsip syariah, Jadi hukum asuransi dalam islam diperbolehkan dengan tidak terlepas dari syariat yang ada.