avatardisplay_general
DISITU
30 Nov 2018

Ketahui Hukum Asuransi Dalam Islam Sebelum Mendaftar

https://disituapi.azureedge.net/ARTIKELIMAGE/201811/181130/Banner/Ketahui Hukum Asuransi Dalam Islam Sebelum Mendaftar.jpg

Terkadang untuk sebagian orang asuransi sangat dibutuhkan karena bertujuan untuk mengantisipasi kebutuhan yang mendesak dan juga perlindungan diri. Asuransi sendiri juga terdapat beberapa produk seperti asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi kendaraan dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun bagaimana pandangan dari Islam? Apakah asuransi diperbolehkan dalam Islam? Terdapat beberapa pendapat dalam pandangan Islam tentang produk-produk asuransi. Para ulama fiqih sendiri memiliki pendapat yang berbeda mengenai hukum asuransi dalam Islam. Sebagian ada yang mengharamkannya dan sebagian lagi menghalalkannya. Namun pada dasarnya hal tersebut tergantung dari tujuan masing – masing asuransi itu sendiri. Oleh karena itu berikut ini adalah beberapa penjelasan mengenai hukum asuransi dalam Islam:

Hukum Asuransi Haram

hukum-islam

Untuk yang pertama adalah pendapat yang mana mengharamkan asuransi, dimana disimpulka jika asuransi sama dengan berjudi, dimana berjudi sudah jelas diharamkan dalam Islam. Hal tersebut karena pada prakteknya, asuransi ersebut merupakan judi. Kemudian asuransi memiliki unsur riba yang juga dalam Islam riba sudah jelas haram hukumnya. Contohnya saja adalah uang dari hasil premi dari peserta asuransi tersebut didepositokan dengan menggunakan sistem pembungaan uang, dan biasanya hal tersebut ada pada asuransi konvensional. Lalu asuransi memiliki unsur pemerasan, dimana para pemegang polis ini jika tidak dapat melanjutkan pembayaran premi, maka nantinya premi yang sudah dibayarkan akan hilang atau dikurangi, dan hal tersebut yang dikatakan sebagai pemerasan. Selanjutnya hukum asuransi dalam Islam diharamkan karena disimpulkan jika hidup dan mati manusia dalam asuransi mendahului takdir Allah. Alasan ini memang kurng populer, tetapi harus diakui jika terdapat sedikit perasaan dari para peserta untuk mendahului takdir Allah. Contohnya saja asuransi kecelakaan ataupun kematian, yang mana seharusya seseorang yang sudah berhati – hati dan bertawakal tidak perlu menggantungkan diri pada pembayaran klaim dari sebuah perusahaan asuransi.

Hukum Asuransi Halal

hukum-islam

Kemudian yang kedua adalah hukum asuransi dalam Islam yang mana diperbolehkan oleh sebagian ulama, namun tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Adapun beberapa di antaranya adalah pada dasarnya di dalam AlQuran sama sekali tidak menyebutkan hukum dari asuransi, dengan demikian hukumnya tidak bisa langsung diharamkan begitu saja. Kemudian pada kenyataannya sistem dari asuransi sendiri dianggap bisa menanggulangi kepentingan umum, karena beberapa premi yang terkumpul bisa diinvestasikan untuk beberapa proyek yang cukup produktif dan juga pembangunan. Selain itu asuransi secara nyata dapat menyantuni korban kecelakaan maupun kematian dalam berbagai kasus, termasuk pada kerusakan ataupun kehilangan harta benda, dengan demikian asuransi dibutuhkan secara darurat.

Kriteria Asuransi Halal

hukum-islam

Jadi pada dasarnya hukum asuransi dalam Islam memang tergantung dari tujuan asuransi itu sendiri. Dan sekarang ini terdapat asuransi dengan sistem syariah dimana asuransi yang halal memiliki beberapa kriteria seperti prinsip dari akad asuransi syariah adalah takafuli atau untuk tolong menolong. Yang mana nasabah yang satu dapat menolong nasabah lain yang mana sedang mengalami kesulitan. Kemudian dana yang terkumpul dari beberapa nasabah sebuah perusahaan asuransi syariah diinvestasikan dengan dasar syariah, dimana menggunakan sistem bagi hasil. Lalu premi yang sudah terkumpul diperlakukan secara tetap sebagai sebuah dana milik nasabah. Dimana perusahaan asuransi hanya menjadi pemegang amanah untuk mengelola dana tersebut. Selain itu jika terdapat peserta yang sedang terkena musibah, untuk pembayaran klaim dari nasabah  nantinya dana tersebut diambil dari rekening dana sosial yang sudah diikhlaskan untuk kebutuhan tolong menolong. Dan untuk keuntungan investasi dibagi menjadi dua di antara nasabah dan perusahaan, dimana disebut dengan sistem bagi hasil. Dan yang terakhir adalah terdapat Dewan Pengawas Syariah di dalam sebuah perusahaan asuransi syariah, dan hal tersebut merupakan hal yang wajib.