avatardisplay_general
DISITU
20 Sep 2018

Langkah Sebelum Gadai Sertifikat Rumah Syariah

https://disituapi.azureedge.net/ARTIKELIMAGE/201809/180920/Langkah%20Sebelum%20Gadai%20Sertifikat%20Rumah%20Syariah.jpg

Di dunia gadai, terdapat 2 jenis gadai yakni gadai konvensional dan gadai syariah. Gadai konvensional adalah gadai pada umumnya. Sistem yang digunakan berupa memberikan pinjaman dengan barang jaminan, yang nominal penebusannya bertambah karena bunga. Secara umum, konsep bunga ini diterima sebagai balas jasa pemberi pinjaman. Namun dalam Islam, konsep bunga hukumnya masih kontroversial. Sehingga banyak nasabah gadai beralih ke gadai syariah. Anda ingin gadai sertifikat rumah, namun secara syar’i? Berikut ini kami berikan langkah-langkah melakukan gadai sertifikat rumah syariah :

Sekilas Tentang Gadai Syariah

Gadai syariah, atau rahn, adalah sistem gadai yang berlandaskan langsung pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Persisnya landasan tersebut terdapat dalam QS. Al-Baqoroh ayat 283. Dalam Islam, setiap orang yang ingin meminjam barang akadnya harus disaksikan oleh penulis (dalam hal ini, notaries). Jika tidak dapat menyediakan saksi, pihak penggadai sebaiknya menyerahkan barang jaminan. Ada beberapa istilah yang digunakan dalam gadai syariah. Pertama, rahn berarti penggadai. Murtahin berarti penerima gadai, marhun barang jaminan, dan mu’nah artinya biaya. Dalam gadai sertifikat rumah, syarat ini berlaku bagi siapapun yang terlibat. Termasuk dokumen yang akan di-marhunkan.

 5 Langkah Gadai Sertifikat Rumah Secara Syariah Yang Perlu Diperhatikan

Secara garis besar, langkah-langkah melakukan gadai sertifikat rumah syariah mirip dengan gadai konvensional. Perbedaan terbesarnya terletak pada jenis akad dan pembebanan mu’nah. Lebih detilnya sebagai berikut :

Gadai Syariah

1. Memilih Mitra Gadai Yang Memiliki/Khusus Menangani Program Syariah

Baik dalam gadai konvensional maupun syariah, proses memilih mitra gadai sangatlah penting. Bahkan lebih penting lagi dalam gadai syariah. Sistem gadai syariah dari awal akad hingga akhir benar-benar berbeda dengan gadai konvensional. Semua harus sesuai dengan cara-cara yang diatur Al-Quran dan As-Sunnah. Sehingga mitra gadai yang dipilih haruslah mitra yang terbiasa menangani gadai syariah.

Gadai Syariah

2. Gadaikan Sertifikat Rumah Yang Dianggap Lebih Bernilai Secara Syariah

Sertifikat rumah memiliki banyak jenis. Mulai dari Akta Jual Beli (AJB) hingga Sertifikat Hak Milik (SHM). Salah satu syarat utama gadai syariah adalah marhun memiliki kepastian pemilikan. Maka semakin pasti marhun tersebut, semakin baik dijadikan jaminan gadai. AJB merupakan sertifikat rumah dengan kepastian pemilikan paling rendah. Karena tidak adanya paten pernyataan pemilikan dari pemerintah. Beda halnya dengan SHM. Maka dari itu, jika akan gadai sertifikat rumah syariah, sebaiknya gadaikan dokumen dalam bentuk SHM.

Gadai Syariah

3. Penuhi Syarat Dan Rukun Gadai Syariah

Pengertian syarat di gadai syariah sama saja dengan syarat di gadai konvensional. Hanya saja urut-urutannya lebih rumit. Dalam gadai syariah, syarat utama rahin adalah baligh (usia di atas 15 tahun), berakal, dan mampu melakukan gadai syariah. Dalam gadai konvensional, syarat semacam itu tidaklah ada. Terkait dengan rukun, proses gadai syariah terikat dalam urutan yang harus tertib. Rukun tersebut yakni (a) ada rahin, murtahin, dan marhun, (b) ada akad, (c) ada pembayaran mu’nah, (d) mengikuti batas waktu yang disepakati.

Gadai Syariah

 4. Pilih Akad Yang Akan Digunakan

Dalam gadai syariah, ada 2 jenis akad yakni akad rahn dan akad ijarah. Dalam akad rahn, marhun yang dijaminkan kepemilikannya jatuh pada murtahin. Sehingga mu’nah pemeliharaan marhun jatuh sepenuhnya ke murtahin. Saat marhun ditebus, mu’nah ini dibebankan pada rahin. Sedangkan dalam akad ijarah, kepemilikan tetap milik rahin. Namun rahin diwajibkan membayar biaya pemeliharaan pada murtahin.

Gadai Syariah

5. Bayarkan Mu’nah Sesuai Kewajiban

Setelah ditetapkan akad yang digunakan, rahin berkewajiban membayarkan mu’nah pada murtahin. Ini dilakukan sebagai ganti “bunga” yang tidak dibebankan dalam gadai syariah. Pembayaran mu’nah ini tergantung pada jenis akad. Dalam akad rahn, mu’nah dibayarkan saat penebusan. Sedangkan dalam akad ijarah, mu’nah dibayarkan di awal akad atau periodik mengikuti waktu pegadaian.