avatardisplay_general
DISITU
19 Nov 2018

Prinsip Asuransi Konvensional Vs. Asuransi Syariah

https://disituapi.azureedge.net/ARTIKELIMAGE/201811/181119/Banner/Prinsip Asuransi Konvensional Vs Asuransi Syariah.jpg

Perkembangan di bidang asuransi tentu saja menghadirkan banyak pelayanan hingga produk terbaik. Bahkan dari sebuah jasa ataupun lembaga asuransi bisa dipastikan selalu membuat inovasi baru yang membuat nasabah bisa menikmati perlindungan maksimal. Seperti kita tahu bahwa dalam prinsip asuransi saat ini banyak dijadikan bahan pembahasan terutama dari sisi prinsip konvensional dengan syariah. Dari masing-masing prinsip tersebut tidaklah sama, sehingga masyarakat perlu tahu seperti apa konsepnya.

Untuk bisa mengerti seperti apa konsep terbaik mengenai prinsip dari jenis asuransi konvensional dengan asuransi syariah sebaiknya cermati dahulu satu-persatu mengenai ulasan berikut ini.

Dilihat Dari Konsep Asuransi

prinsip-asuransi

Untuk memahami seperti apa hal penting dari kedua jenis asuransi tersebut diperlukan pengecekan terutama dari sisi konsepnya. Pada jenis konvensional sudah menghadirkan sistem menginatkan diri terhadap tertanggung dengan bentuk premi asuransi sehingga nantinya bisa diganti sebagai akses pertanggungan kesehatan dari pihak lembaga asuransi. Kalu untuk asuransi tipe syariah sendiri menjadi salah satu kumpulan orang yang membantu hingga menjamin bahkan bekerja sama dengan cara-cara masing-masing untuk mengeluarkan dana terbaru.

Asal Usul Asuransi

prinsip-asuransi

Belum banyak yang mengetahui bahwa tipe prinsip asuransi jenis konvensional ini sudah ada sejak tahun 4000 sampai 3000SM bahkan dikenal sebagai perjanjian Hammurabi, kemudian seiring berjalannya waktu diubah ke produk lebih modern. Sedangkan pada tipe asuransi syariah ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Arab sebelum adanya Islam lalu menjadi salah satu akses untuk mendapat jaminan kesehatan.

Aspek Sumber Hukumnya

prinsip-asuransi

Semua tipe asuransi bak konvensional dengan syariah masih memiliki aspek sumber hukum yang menarik. Untuk konvensional memiliki sumber hubum dari pikiran manusia hingga kebudayaan. Bahkan masih berlandaskan pada hukum positif dan hukum alami. Kalau pada asuransi syariah juga menghadirkan hal berbeda dimana sumbernya berasal pada bentuk wahyu Ilahi kemudian dikembangkan masa Rasullulah hingga sekarang.

Konsep Ghara, Riba dan Maysir

prinsip-asuransi

Jelas pada prinsip asuransi Syariah masih kental dengan unsur Islam di dalamnya terutama pada tiga aspek penting diantaranya Gharar, Riba, dan Maysir. Sudah jelas pada tipe konvensional tidak menjalankan tiga prinsip tersebut karena memang sistem kerjanya tidak sama. Untuk jenis asuransi syariah sudah bersih agar Maysir, Riba, hingga Gharar. Sehingga dari prinsip keagamaannya masih kental pada prinsip syariah dibandingkan konvensional.

Aspek Dewan Pengawas Syariah

prinsip-asuransi

Perbedaan dari tipe asuransi syariah dengan konvensional juga sudah terlihat terutama dari adanya DPS atau disebut Dewan Pengawas Syariah. Untuk tipe konvensional tidak ada DPS tersebut sehingga masih belum bisa terbebas dari praktek bertentangan dengan kaidah-kaidah syariah. Maka dari itu perbandingan sisi keamanan memang hampir saja, akan tetapi pada tipe syariah ini memiliki tambahan DPS sehingga lebih aman.

DPS sendiri memiliki fungsi mengawasi semua pelaksanaan operasional perusahaan sehingga terbebas dari praktek muamalah yang tak menganut sistem syariah.

Secara teknis dari prinsip asuransi dua jenis baik konvensional dan syariah menghadirkan keunggulan sampai kekurangan masing-masing. Masyarakat yang menjadi calon nasabah pada tipe asuransi syariah dan konvensional harus cermat dalam menentukan semua hal penting di dalamnya. Maka dari itu kedua konsep penting baik konvensional menghadirkan perbedaan yang mana membuat nasabah masih tetap mendapat proteksi. Namun sistemnya tidak sama, yang mana nasabah akan diberikan pertimbangan tertentu yang membuatnya semakin yakin dengan pelayanan terbaik dan produk asuransi dari sebuah jasa pelayanan asuransi kesehatan ataupun jiwa.