avatardisplay_general
DISITU
03 Apr 2018

Pajak Progresif Mobil, Ini Pejelasan Lengkapnya!

https://disituapi.azureedge.net/artikel/636 Pajak Progresif Mobil Ini Pejelasan Secara Lengkapnya.jpg

Apakah Anda sudah tahu cara menghitung pajak progresif mobil? Jika belum, pajak progresif adalah suatu tarif atau biaya pemungutan pajak berdasarkan persentase yang dilandasi oleh jumlah / kuantitas suatu objek pajak. Berdasarkan pula dari harga atau nilai suatu objek pajak. Hal ini dapat menyebabkan biaya pajak kendaraan akan semakin bertambah tinggi jika total atau kuantitas pajak semakin bertambah dan apabila nilai dari objek pajak mengalami kenaikan. Pajak progresif memiliki dua jenis, yaitu Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).

Jadi, apa yang dimaksud dengan pajak progresif mobil? Yaitu, suatu pajak yang diharuskan bagi pemilik kendaraan mobil dari perhitungan tarif pajak yang sesuai dari hal yang telah disebutkan diatas PKB (Pajak Kendaraan Bermotor). Ketentuan ini dilandasi apabila Anda pemilik kendaraan mobil yang memiliki kesamaan nama pemilik dengan alamat tinggal pemilik kendaraan yang sesuai dengan surat-surat kendaraan. Misalnya, jika Anda hendak menjual mobil, namun tidak melakukan proses balik nama pemilik kendaraan, maka pajak progresif akan ditanggung oleh pemilik mobil sebelumnya atau pemilik yang lama.

Karena nama dan alamat pada surat kendaraan masih sama pada pemilik yang lama. Hal ini dikarenakan apabila mobil Anda telah terjual atau pun kendaraan lainnya, alangkah baiknya melakukan proses balik nama kendaraan. Sehingga Anda tidak lagi atau harus membayar pajak progresif mobil tersebut. Dan hal ini, bagi pemilik mobil baru juga harus melaporkan ke SAMSAT provinsi dimana kendaraan tersebut telah dialihkan untuk kepemilikan mobil yang Anda beli. Laporan untuk kepemilikan kendaraan hendaklah sekurang-kurangnya 30 hari setelah pergantian kepemilikan.

Tarif Pajak Progresif Mobil

Bagi Anda yang ingin memiliki kendaraan baru tentu ingin mengetahui berapa tarif pajak progresif yang akan Anda bayarkan, berikut tarifnya:

No.      Urutan                                    Persentase dari Tarif Pajak

1.         Mobil Pertama                                  1,5%

2.         Mobil Kedua                                     2%

3.         Mobil Ketiga                                      2,5%

4.         Mobil Keempat & seterusnya        4%

Setelah Anda mengetahui dari presentase pajak progresif mobil, selanjutnya kita coba menghitung biaya pajaknya. Jadi, seperti apa cara menghitung pajak progresif tersebut? Ada 2 hal mendasar yang perlu Anda ketahui, yang nantinya akan berpengaruh menjadi perhitungan dari tarif pajak progresif, seperti:

Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB), hal ini bukanlah harga dari nilai pasaran melainkan dari harga atau suatu nilai yang telah diterapkan dari Dispenda yang sebelumnya sudah menerima data dari Agen Pemegang Merek (APM).

Bobot atau efek negatif dari penggunaan kendaraan dan bisa merefleksikan tingkat dari kerusakan jalan yang dinyatakan dalam koefisien yang nilainya satu atau lebih.

Untuk menghitung pajak progresif kendaraan dimulai dari menghitung NJKB. Bagaimana cara menghitungnya? Rumusnya adalah (PKB/2) x 100. Untuk melihat nilai dari PKB kendaraan Anda, dapat dilihat di sisi belakang STNK Anda. Disana telah terdata nilai PKB dari setiap kendaraan. Setalah itu dikali dengan persentase tarif pajak progresif mobil tersebut, sesuai dengan urutan kepemilikan kendaraan. Setelah mendapatkan hasil pajak progresif mobil, lanjut tambahkan dengan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).

Untuk kendaraan berikutnya, Anda tinggal menghitung kembali dengan nilai yang sama sesuai persentase. Misalnya, kita sebut Ibu A berikut ini: Ibu A memiliki 4 kendaraan mobil. 4 kendaraan tersebut memiliki model dan juga tahun yang sama (kami coba samakan saja, agar lebih mudah dalam melihat kenaikan tarif pajaknya). Jadi: PKB: 1.600.000 SWDKLLJ: 160.000 Lalu berapa tarif pajak progresif mobil setiap mobil? Tahapan awal yang perlu dicoba yaitu menghitung nilai NJKB, caranya sebagai berikut:

NJKB: (PKB/2) x 100 (1.600.000/2) x 100 80.000.000 Setelah mengetahui nilai NJKB nya, mari menghitung dari tarif pajak progresif pada 4 mobil tersebut, dimulai dari mobil pertama:

  • Mobil Pertama: PKB: 80.000.000 x 1,5% = 1.200.000 SWDKLLJ: 160.000 Total: Rp 1.360.000

  • Mobil Kedua: PKB: 80.000.000 x 2% = 1.600.000 (Mengalami Kenaikan) SWDKLLJ: 160.000 Total: Rp1.760.000

  • Mobil ketiga: PKB: 80.000.000 x 2,5% = 2.000.000 (Mengalami Kenaikan) SWDKLLJ: 160.000 Total: Rp 2.160.000

  • Mobil Keempat: PKB: 80.000.000 x 4% = 3.200.000 (Terjadi Kenaikan) SWDKLLJ: 160.000 Total: Rp 4.800.000

Cara Tak Kena Pajak Progresif Kendaraan

Dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2015 Pasal 7 ayat (1a), disebutkan bahwa tarif pajak kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1), didasarkan atas nama dan/atau alamat yang sama. Jika dalam satu alamat/nama lebih dari satu mobil atau motor, maka dikenakan pajak progresif.

Meski sudah cukup jelas, namun aturan ini masih cukup membingungkan sebagian orang. Misalnya, apakah kalau kasusnya sudah menikah dan punya Kartu Keluarga (KK) yang beda dengan orangtua, tapi masih menggunakan alamat yang sama, tetap dikenakan pajak progresif untuk kendaraan yang dimiliki?

Menurut Edi Sumantri, selaku Kepala Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta, menyatakan bahwa jika tidak diurus, maka memang kemungkinan akan kena pajak progresif.

Misalnya, ada anak yang sudah menikah dan punya KK sendiri namun masih tinggal bersama keluarga besarnya, lalu ia membeli mobil. Mobilnya itu akan kena pajak progresif bila orangtuanya juga sudah punya mobil. Besarannya sesuai peraturan.

Edi menjelaskan, agar tidak terjadi hal demikian, maka solusinya adalah mendatangi Samsat (Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap) dan menjelaskan bahwa pajak progresif yang dikenakan tidak tepat karena sudah tidak lagi satu keluarga.

Solusinya hanya datang ke Samsat. Dan minta untuk klarifikasi pajak progresif. Di sana nanti terdapat formulir yang menyatakan bahwa ini sudah beda keluarga. dapat dipisah meskipun alamat yang tertera di kartu keluarga (baru) sama dengan alamat kartu keluarga orang tua.

Syarat Menghindari Pajak Progresif

Syaratnya, pemohon harus melampirkan KK lama, serta KK-nya yang baru. Petugas Samsat akan mengecek kebenarannya. Jika itu sudah dilakukan, maka keluarga baru itu akan tetap dikenakan pajak pertama meski alamatnya masih sama dengan orangtua yang sudah punya kendaraan sebelumnya.

Kata kuncinya memang pada kata "dan/atau" dalam kalimat "didasarkan atas nama dan/atau alamat yang sama". Dalam laman Badan Bahasa Kemendikbud, disebutkan bahwa dan/atau memang dapat diperlakukan sebagai "dan", serta dapat diperlakukan sebagai "atau".

Artinya, kalimat itu mengandung makna (1) bahwa pajak progresif "didasarkan atas nama dan alamat yang sama" (harus keduanya)...atau (2) bahwa pajak progresif "didasarkan atas nama atau alamat yang sama" (bisa salah satunya).

  • Buat kartu keluarga terpisah dengan orangtua

Di daerah dengan harga rumah selangit seperti DKI Jakarta, tak jarang seorang anak yang sudah mandiri dan berkeluarga masih tinggal dengan orangtua.

Karena punya kebutuhan sendiri, banyak di antaranya memiliki mobil sendiri. Namun, karena alamat yang digunakan di STNK sama, maka mobil baru tersebut dikenai tarif pajak progresif.

Sebenarnya, hal ini bisa dihindari. Kita bisa tetap membayar pajak dengan tarif normal asal membuat kartu keluarga terpisah. Hal ini ditegaskan oleh Edi Sumantri, Kepala Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta. Dalam salah satu keterangannya seperi dikutip dari Liputan6.com, orang yang sudah menikah dan memiliki kartu keluarga terpisah bisa mendatangi Samsat dan mengajukan keberatan atas pengenaan pajak progresif yang tidak tepat. Nantinya, pihak yang berkeberatan akan diminta mengisi formulir yang menyatakan beda keluarga.

  • Pecah sertifikat rumah menjadi beberapa bagian

Tak jarang pula ada rumah yang dihuni lebih dari satu keluarga. Hal ini terjadi karena rumah yang dihuni cukup besar dan para anggota keluarga yang lain tidak bisa pindah ke rumah yang lain.

Nantinya, di rumah tersebut akan ada banyak kendaraan mengingat aktivitas dan kebutuhan yang berbeda-beda. Bila sudah seperti ini, potensi terkena pajak progresif bisa makin besar.

Untuk menghindarinya cukup lakukan pemecahan sertiikat rumah menjadi bagian-bagian yang berbeda. Setelah masing-masing bagian rumah memiliki sertifikatnya sendiri, kita bisa mengajukan penggantian alamat ke Samsat.

Cara ini memang lebih ribet dan memakan biaya. Namun akan efektif menghemat biaya pajak kendaraan ke depannya.

  • Gunakan transportasi umum

Cara ini adalah cara paling mudah yang bisa dilakukan orang untuk menghindari pajak ini. Sembari menghemat pengeluaran untuk pajak, kita juga memperoleh banyak keuntungan lain seperti ikut membantu mengurai kemacetan dan menyehatkan tubuh.

Ketahui Pajak Progresif Mobil Anda

Nah itu tadi sedikit penjelasan mengenai pajak progresif mobil mulai dari pengertian sampai dengan perhitungan pajak progresif mobil yang bisa Anda hitung sendiri di rumah serta ulasan mengenai penerapan pajak progresif mobil di Jakarta. Semoga artikel ini dapat memberikan tambahan wawasan mengenai pajak progresif mobil bagi Anda sekalian.

cari-kredit-DISITU-pilihanmu