avatardisplay_general
DISITU
22 Aug 2018

Pembukaan Lahan, Faktor Utama Penyebab Kebakaran Hutan

https://disituapi.azureedge.net/A/Img/1808/180822/Kebakaran%20hutan%20dan%20lahan.jpg

Pembukaan lahan dengan metode pembakaran hutan merupakan hal yang cukup lumrah dilakukan di Indonesia. Pembakaran hutan banyak dipraktekkan oleh para peladang untuk membuka lahan, yang kemudian diadopsi oleh perusahaan-perusahaan kehutanan dan perkebunan karena biayanya yang cukup murah. Dalam lingkup ilmu kehutanan ada sedikit perbedaan antara istilah pembakaran dan kebakaran hutan. Pembakaran hutan merupakan kejadian yang disengaja pada satu lokasi tertentu secara terkendali. Hal ini dilakukan untuk membuka lahan, meremajakan hutan, atau mengendalikan hama. Sedangkan, kebakaran hutan merupakan kejadian tidak disengaja atau dapat juga terjadi secara alamiah.

Kebakaran hutan secara alami dapat dipicu oleh lelehan lahar gunung api, petir, maupun gesekan antara pepohonan. Sambaran petir dan gesekan pohon dapat mengakibatkan kebakaran bila kondisi hutan kering, seperti yang terjadi pada beberapa kasus kebakaran hutan di Amerika Serikat dan Kanada. Namun, di Indonesia yang merupakan hutan hujan tropis yang memiliki kelembaban yang tinggi, hal ini dinilai cukup mustahil karena terjadinya petir biasanya juga diiringi oleh turunnya hujan sehingga kemungkinan terjadinya kebakaran menjadi sangat rendah.

Kebakaran hutan yang dipicu kegiatan manusia bisa diakibatkan dua hal, secara sengaja dan tidak sengaja. Proses pembakaran hutan yang tidak terkendali, misalnya untuk eksploitasi sumber daya alam, baik untuk meremajakan hutan, membersihkan lahan atau memberantas hama merupakan penyebab kebakaran hutan yang disengaja. Banyak peristiwa kebakaran hutan besar dipicu oleh aktivitas ini. Menurut Raffles, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hampir 99 persen kebakaran hutan yang terjadi disebabkan oleh manusia.

 Secara teoritis, kebakaran hutan terjadi karena ada interaksi antara bahan bakar, oksigen dan panas pada kondisi tertentu. Bila ketiga unsur tersebut ada secara bersamaan maka kebakaran akan terjadi. Oleh karena, menghilangkan salah satu unsur tersebut adalah metode untuk menanggulangi kebakaran hutan. Unsur yang sering kali dihilangkan pada proses ini adalah bahan bakar yang bereaksi dengan oksigen.

Salah satu bencana kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia mengakibatkan kerusakan dan kerugian yang sangat besar di bidang ekonomi. “Kalau dihitung-hitung, kerugian yang dikarenakan urusan pembatalan penerbangan, dampak karena perkantoran yang libur, dampak karena aktivitas ekonomi yang berhenti mencapai angka yang tidak sedikit," ucap Presiden Joko Widodo. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada bulan Juni hingga Oktober 2015 memakan kerugian finansial hingga Rp 220 triliun.

Img-responsive